Kalender

September 2021

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30

PELAJAR JAMAN SEKARANG HARUS TAHU

CATATAN AKHIR SEKOLAH ANGKATAN 20

Event UNBK SMP Sidoarjo 26 April 2019

POLLING

BAGAIMANA WEBSITE SPENPATRU ?

  SANGAT BAGUS
  BAGUS
  BIASA SAJA
  JELEK

  Hasil Polling

REFLEKSI MAKNA PERAN GURU  DI ABAD 21

REFLEKSI MAKNA PERAN GURU DI ABAD 21

37

<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Ada bangga tersendiri ketika siswa memanggil sebutan Guru kepada saya. Dalam pandangan masyarakat kini guru adalah profesi yang beruang. Kehidupan nampak semakin makmur sejak di berlakukan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP). Tunjangan ini diberikan oleh pemerintah kepada guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan sebagai penerima tunjangan. Diharapkan guru-guru penerima TPP ini mampu menggunakannya untuk peningkatan kompetensi sehingga menjadi guru profesional dan ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Terlepas dari itu, peran guru sejatinya sangat besar. Kerap kali guru di gaungkan dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sayangnya sebutan itu perlahan musnah. Masyarakat awam berpendapat bahwa sebutan itu sudah tidak layak lagi bagi guru karena guru mendapatkan TPP, padahal TPP adalah sebuah penghargaan. Bagi masyarakat yang bukan guru, adanya TPP “<i>image” </i>guru dengan sebutan “tanpa tanda jasa” menjadi tidak layak.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Guru adalah orang yang punya masa depan cerah karena gaji dan TPP di peroleh. Sebenarnya merupakan kebijakan pemerintah dalam memperbaiki kehidupan para guru dengan adanya sertifikasi. Dan sudah terbukti para guru sekarang sudah 99% kehidupannya meningkat jauh lebih baik dari pada 10 atau 11 tahun yang lalu.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lepas dari nilai rupiah yang di terima, apa yang harus di kerjakan sebenarnya berimbang. Karena tuntutan bagi guru sebelum terima TPP dan sesudah terima TPP juga berbeda. Perbedaan tersebut beriringan dengan tuntutan zaman. Perkembangan yang begitu pesat mengikuti teknologi, mau tidak mau, suka tidak suka harus diikuti para guru.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Bagi guru yang usianya masih muda bisa mengikuti perkembangan dengan “berjalan” atau dalam arti bisa mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari karena memang sebagian hidup mereka menggunakan teknologi. Bagi guru yang sudah tidak muda lagi/ lanjut usia bisa mengikutinya dengan berjalan lebih cepat bahkan dengan berlari. Tidak bisa dipungkiri mengikuti kemajuan zaman terkadang membuat guru-guru yang usianya sudah tidak muda lagi terengah – engah. Sedikit belajar memahami teknologi yang ada, para guru butuh berhenti mengistirahatkan pikiran. Sementara yang kita ikuti (teknologi) tidak pernah berhenti selalu bergerak. Tertinggalah kita, 1 langkah, 2 langkah, 3 langkah bahkan 5, 10 hingga 100 langkah. Kembali lagi para guru yang berusia lanjut didorong untuk berlari lagi, istirahat lagi dan begitu seterusnya. Tertinggalah para guru semakin beribu ribu langkah.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Namun guru yang memiliki usia tidak muda lagi tak perlu putus asa, tetap percaya diri bahwa profesi mereka tiada duanya. Mungkin bisa diingat sedikit tentang kuli bangunan yang dulu mengaduk bahan untuk membuat dinding dengan bahan dasar semen, pasir dan kapur putih. Sudah belasan tahun pada proyek fungsinya di gantikan oleh mesin molen.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Sama dengan tugas seorang guru di depan kelas. Sepuluh tahun yang lalu guru masih memberikan materi dengan bercerita di depan kelas. Saat ini para siswa bisa di ajak ke perpustakaan, taman baca dengan perintah! LITERASI! Saat ini guru tidak perlu memberikan para siswa cerita, mereka bisa mencari sumber cerita sendiri di internet dan dimanapun sumbernya dengan satu perintah! TUGAS! baik mandiri maupun kelompok, dimana tugas tersebut tetap kita yang punya kendali .<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Saat ini guru bukan satu satunya sumber belajar, tapi bukan alasan bagi para siswa untuk menghapus makna peran guru. Dahulu siswa belajar ke sekolah untuk menimba ilmu karena para guru merasa lebih pandai dari siswa, tahu lebih banyak ilmu dari mereka, dan masih banyak keegoisan yang dimiliki para guru. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Mungkin saat ini mereka tidak perlu lagi berguru pada guru untuk keseluruhan ilmu, guru tidak perlu lagi menggurui siswa. Guru hanya perlu<i> sharing</i> dan belajar bersama mendampingi dan mengarahkan siswa seiring perkembangan teknologi dengan tetap memacu kreatifitas kita (para guru yang sudah berumur). Meski harus tertatih tatih, namun seorang guru harus tetap percaya bahwa kita bisa, seorang guru punya semangat yang pantang menyerah agar seorang guru tetap berharga di mata siswa, agar guru tidak ditinggalkan para siswa. Guru punya beragam cara untuk itu.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Peran guru saat ini bisa sebagai motivator bagi siswa dengan cara masing-masing, agar mereka berlari mengikuti perkembangan namun guru tetap mengawal agar siswa tidak tersesat. Kita support mereka dengan ilmu kita, yakinlah dengan kemampuan yang dimilki, <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">kita tinggal memoles ilmu yang kita punya dengan banyak membaca dan mengikuti perkembangan lewat bermacam media yang ada. Kita memang harus belajar, belajar, dan belajar bersama mereka.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Tidak menutup kemungkinan kita menimba ilmu dari mereka, sebagai bumbu penyedap ,atau sebagai pemanis atau sebagai topping &nbsp;tampilan ilmu kita. Kita kemas ilmu kita semenarik mungkin, agar mereka tertarik dan tetap membutuhkan kita. Sehingga kita tidak ditinggalkan mereka karena mereka tidak membutuhkan kita. karena media lain lebih menarik dari kita, karena kita membosankan, menjenuhkan, menjemukan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Jujur kita butuh mereka, agar kita tetap di sebut ”guru” karena ada mereka sebagai siswa. Jika tidak ada siswa lantas kita gurunya siapa? Mari kita hilangkan keegoisan kita bahwa hanya siswa yang butuh kita. Dapatkah kita bayangkan kalau mereka tidak membutuhkan kita, meninggalkan kita dan membiarkan keasyikan kita di depan mereka? Mereka diam , tidak berulah! hanya agar kita tidak pusing bukan mencurahkan perhatian kekita karena ada kebutuhan mereka pada kita, pada informasi dan ilmu kita butuh sharing dengan kita mengenai ilmu kita.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Buatlah mereka tetap membutuhkan kita, tunjukkanlah! keberadaan kita ditunggu mereka. Jangan pernah mengatakan mereka beruntung ketemu kita, tapi ajaklah mereka belajar bersama. Menyelesaikan masalah dalam ilmu kita bersama- sama. Kalau mereka berbuat salah, maklumilah karena mereka adalah manusia kecil sok dewasa tapi, bukan berarti dilakukan pembiaran namun harus tetap dibina agar kedepannya lebih baik.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Dari sekian jumlah anak manusia yang kita hadapi mungkin memang ada yang butuh ekstra untuk pembinaannya, tapi itu tidaklah banyak.Oleh karena itu perlu sekali bila pembinaan itu dilakukan langsung pada yang berkenaan. Bukan secara klasikal agar tidak semua kena imbasnya dan tidak timbul rasa dendam antar teman juga. Karena yang berulah si A pembelajaran hilang, si B merasa rugi padahal dia tidak ikut berulah.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terlalu banyak memang yang harus kita kerjakan ,belum tuntutan secara akademik, tuntutan kurikulum, tuntutan administrasi dan lain sebagainya. Namun kita tidak sendiri, di luar sana pasti sama dan tidak jauh berbeda hanya cara&nbsp; menyikapinya yang mungkin berbeda.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berusaha mengerjakan dulu sebisanya yakin segala yang kta kerjakan ada manfaatnya meskipun kecil. Sejatinya hal kecil yang dikumpulkan jadi besar. Predikat, sebutan dan profesi kita adalah pilihan! apapun itu alasannya. Sehingga kita pun harus berbesar hati dengan apa yang sudah kita pilih.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Semoga semakin jauh kita berjalan meninggalkan mereka dan bahkan kita sudah tidak ingat lagi mereka angkatan lulusan ke berapa, tapi alangkah bermaknanya hidup kita dan umur kita karena mereka ternyata masih mengukir indah nasehat kita, candaan berpetuah kita, kasih jahat kita yang mampu memotivasi langkah dan alur hidupnya. Merah, hitam, putih kita mereka ingat. Yang perlu diingat dan untuk motivasi diri sendiri dikegagalan mereka ada kekurangan kita di keberhasilan mereka ada kelebihan mereka.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;</span></p> <p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;line-height:150%"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sehingga dengan legowo kita akui, kita banyak kekurangan. siswa-siswi kita adalah generasi emas di abad 21. Kita bukan insan terbaik tapi kita bukanlah guru terburuk. Kita yang menghasilkan beribu, puluhan generasi emas. Kelak pada abad 21 yang sukses ada andil kita didalamnya, ada kesabaran kita membimbingnya, ada wajah kita di kenangannya juga ada doa kita. (Sri Harini)<o:p></o:p></span></p>

Selengkapnya
TRANSFORMASI MATA RANTAI PENDIDIKAN LITERASI, PRESTASI, REVOLUSI INDUSTRI

TRANSFORMASI MATA RANTAI PENDIDIKAN LITERASI, PRESTASI, REVOLUSI INDUSTRI

56

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Barometer peradapan itu kini melaju cepat dalam bingkai revolusi industri 4.0 <i>(Industrial revolustion 4.0</i> . Gempuran di berbagai ranah dan kepungan teknologi yang serba distrubtif seperti munculnya <i>Internet of Things (IoT),</i> big data, otomasi robotika,komputasi awan, hingga Intelegensi artifical <i>(artifical Intellegent)</i> berhasil menorehkan tanda besar dalam sejarah revolusi industri 4.0. (</span>J.E Aoun: 2017). <span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Istilah industri 4.0 berawal dari sebuah proyek yang di prakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang di dorong oleh empat faktor : (1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi dan konektivitas, (2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis, (3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dan mesin, (4) pebaikan intruksi transfer digital kedunia fisik seperti robotika dan 3D priting (Lee et al: 2013) <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Pemetaan tantangan dan peluang industri 4.0 salah satunya adalah masalah pengangguran. <i>Work Employmentand Social Outlook Trend</i> 2017 memprediksi jumlah orang yang menganggur secara global pada 2018 diperkirakan akan mencapai angka 204&nbsp; juta jiwa dengan kenaikan tambahan 2, 7 juta. Hampir sama dengan kondisi yang dialami negara barat. Indonesia juga diprediksi mengalami hal yang sama. Pengangguran juga masih menjadi tantangan bahkan cenderung menjadi ancaman. Tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2017 sebesar 5,33% atau 7,01 juta jiwa dari total 131, 55juta orang angkatan kerja (Sumber BPS: 2017) <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Permasalahan pengangguran dan daya saing sumber daya manusia dimasa yang akan datang menjadi tantangan nyata bagi Indonesia. Bank dunia (2017) melansir bahwa pasar kerja membutuhkan multi - skills lulusan yang ditempa oleh satuan dan sistem pendidikan, baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Indonesia juga di prediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030 – 2040, yaitu penduduk dengan&nbsp; usia produktif lebih banyak di bnding penduduk dengan usia non produktif. Jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencai 64% dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 297 Juta Jiwa. Lantas bagaimana cara menanggulangi kondisi yang di predisikan di atas? Kuncinya adalah memperbaiki sistem pendidikan yang sedang berkembang saat ini. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"><b><span style="font-size:12.0pt;line-height: 150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Pengembangan Pendidikan <o:p></o:p></span></b></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam dalam pengembangan sistem pendidikan yang relevan di era revolusi industri 4.0. Pertama, melakukan pergeseran paradigma pendidikan menuju ke paradigma heutagogic (<i>self determined learning).</i> Paradigma ini relevan diterapkan pada era revolusi industri karena menawarkan kebebasan kepada pelajar dalam mendapatkan ilmu. Dengan menerapkan sistem ini, siswa sejak awal diberi banyak pilihan materi pelajaran yang akan dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan bagaimana membuktikan terhadap tingkatan penguasaan materi yang telah dipelajari. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Dalam implementasinya, paradigma heutagogic lebih menekankan pada tingkat kemandirian dan kematangan siswa dalam belajar. Semakin matang siswa dalam hal kemandirian belajarnya, maka tingkat ketergantungan siswa terhadap guru dalam belajar harus diminimalisasikan. Siswa dituntut bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dipelajari dan kapan mereka harus belajar. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Kedua, penerapan berfikir kritis, peningkatan kreativitas, inovasi, komunikasi dan kolaborasi. Desain kurikulum yang digunakan pada setiap satuan pendidikan harus mengacu dan mendasarakan pada karakteristik masing-masing satuan pendidikan tersebut (akademik, professional, dan vokasi). Sudah tidak saatnya lagi, kita menggunakan satu desain kurikulum (misalnya desain kurikulum berbasis kompetensi) pada semua satuan pendidikan. Demikian pula dalam pengembangan kurikulum, perlu menggunakan model-model kurikulum yang mampu menginspisasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan kondisi dan kebutuhannya sesuai kemajuan ilmu, teknologi, dan seni.&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Ketiga, membangun literasi digital. Banyak sekolah kini mulai membangun karakter literasi bagi siswa-siswinya. Budaya membaca ini akan lebih baik jika di terapkan tak hanya disekolah melainkan juga dirumah. Salah satu caranya siswa dibiasakan untuk mereview beberapa artikel pendidikan atau mata pelajaran yang sudah di posting sang guru ke internet. Jadi dalam mengerjakan tugas siswa di tuntut untuk membaca dan menulis ulang.&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Keempat, membiasakan penerapan internet sehat di satuan pendidikan. Di era revolusi industri 4.0 penggunaan teknologi memanglah yang paling utama. Di Indonesia sebesar 80 juta jiwa pengguna internet&nbsp; dan hampir 60% berstatus pelajar. Internet sehat&nbsp; sebenernya banyak sekali definisinya tetapi secara garis besar adalah segala aktivitas pengguna internet saat browsing, chatting, upload, download secara tertib&nbsp; sesuai peraturan yang berlaku dan tidak melanggar hukum (T.Agustina, 2013) .<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Internet sehat di sekolah dapat di bangun dengan memperbolehkan siswa-siswinya membawa laptop atau tablet tanpa data seluler alias tidak boleh paketan hanya boleh dihubungkan dengan wifi sekolah. Namun wifi sekolah tersebut sudah tersetting hanya bisa digunakan untuk kegiatan yang berbau pendidikan, semisal mengerjaakan soal online, mengakses e-book, e journal, dsb. Tanpa bisa untuk mengakses media sosial. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Kelima, percepatan internasionalisasi lembaga-lembaga pendidikan. Sejauh ini banyak sekolah di seluruh Indonesia telah memperoleh pengakuan secara nasional, namun sedikit yang mendapatkan pengakuan secara internasional. Apabila pengakuan internasional dapat di raih maka sejatinya kita tidak tertinggal dari pendidikan sekolah- sekolah negara luar. Bahkan antar lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dengan lembaga-lembaga pendidikan di negara lain bisa saling berkolaborasi untuk pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang dibutuhkan masyarakat era revolusi industri 4.0 . <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Kepandaian dalam mebaca peluang pada Industri 4.0 banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Industri 4.0. Secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif industri 4.0 berupa efektifitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan pekerjaan.&nbsp; Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Pendidikan harus mampu membekali lulusan dengan ketiga literasi tersebut melalui sistem pembelajaran, satuan pendidikan, peserta didik, dan pendidik dan tenaga kependidikan.(Wienetta)<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Sumber :<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: normal"><span style="font-size:12.0pt;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Aoun, J.E. (2017). Robot-proof: higher education in the age of artificial intelligence. US: MIT Press.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: normal"><span style="font-size:12.0pt;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Huda, Nailul. 2015. <i><span style="background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">Pendidikan, Kunci Revolusi Industri 4.0.</span></i> <i><span style="background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;"><a href="https://www.watyutink.com/opini/Pendidikan-Kunci-Revolusi-Industri-40">https://www.watyutink.com/opini/Pendidikan-Kunci-Revolusi-Industri-40</a> </span></i><span style="background-image: initial; background-position: initial; background-size: initial; background-repeat: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial;">diakses pada 24 Nov 2018 <o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: normal"><span style="font-size:12.0pt;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Lee, J., Lapira, E., Bagheri, B., Kao, H., (2013). Recent Advances and Trends in Predictive Manufacturing Systems in Big Data Environment. Manuf. Lett. 1 (1), 38–41.<i><o:p></o:p></i></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: normal"><span style="font-size:12.0pt;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;Ramadani, Erika dan Afif Wika Sadewa. 2017. <i>E- journal</i> <i>Membangun lingkungan internet sehatdi rumah tinggal dengan menggunakan aplikasi web filtering. </i>Yogyakarta&nbsp;<o:p></o:p></span></p>

Selengkapnya
INTERAKSI  EDUKASI  BERBASIS  HOTS

INTERAKSI EDUKASI BERBASIS HOTS

54

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Pada 9 april hingga 12 April 2018 lalu sejumlah &nbsp;1.812.565 siswa SMA dan MA di seluruh Indonesia mengikuti ujian nasional berbasis komputer dengan penerapan soal matematika menggunakan metode higher order thinking skills (HOTS) yang cukup membuat pusing para siswa karena dikeluhkan terlalu sulit.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Lalu, apakah HOTS itu? HOTS merupakan konsep reformasi pendidikan yang dimulai pada awal abad ke-21. Tujuannya untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Pada era ini, sumber daya manusia tidak hanya menjadi pekerja yang mengikuti perintah saja, tetapi memiliki keterampilan abad ke-21, yakni manusia yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik <i>(communication),</i> kemampuan berkolaborasi <i>(collaboration),</i> berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah <i>(critical thinking and problem solving)</i> dan kreatif, serta mampu berinovasi <i>(creativity and innovation)</i> atau dikenal dengan 4C.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">&nbsp;Soal ujian&nbsp; <i>higher order thinking skills</i>&nbsp;(HOTS) atau soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidikan, mulai dari praktisi pendidikan, orang tua, guru, hingga siswa. Siswa yang merupakan bagian dari generasi milenial meriuhkannya, tak hanya di dunia nyata, tetapi juga menembus sekat-sekat dunia maya (media sosial).<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Penyebabnya tak lain karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyisipkan soal-soal HOTS di dalam materi ujian nasional berbasis komputer (UNBK) matematika untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA). Para peserta UN yang baru pertama kali menjumpai soal-soal seperti itu. Soalnya sulit, begitu pendapat mereka.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Kemdikbud menyatakan soal seperti itu sudah mengikuti <i>standar&nbsp; programme for international student assessment&nbsp;</i>(PISA) yang diselenggarakan negara anggota <i>Organization for Economic Cooperation and Development</i> (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">PISA sendiri merupakan survei tiga tahunan untuk mengukur kemampuan anak berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Dalam beberapa survei terakhir (tahun 2015), Indonesia berada pada urutan 66 dari 72 negara untuk kemampuan literasi, urutan 65 dari 72 negara untuk kemampuan matematika dan urutan 64 untuk sains.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Soal HOTS dilandasi oleh taksonomi pendidikan yang dicetuskan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Benjamin S Bloom, pada tahun 1956. &nbsp;Taksonomi tersebut kemudian dibenarkan oleh murid Bloom, yakni Lorin Anderson pada 2001 yang mengkelompokkan keterampilan berpikir atau kemampuan kognitif manusia dari tingkatan paling rendah ke paling tinggi.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Terdapat enam tingkatan kemampuan berpikir tersebut, dimulai dari yang paling rendah, yakni menghafal <i>(remembering),</i> kemudian memahami <i>(understanding)</i>, menerapkan <i>(applying),</i> menganalisis <i>(analyzing),</i> menilai (evaluating), dan tingkatan yang paling tinggi adalah mencipta <i>(creating).</i><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Mengembangkan pemikiran kritis menuntut latihan menemukan pola, menyusun penjelasan, membuat hipotesis, melakukan generalisasi, dan mendokumentasikan temuan-temuan dengan bukti (Eggen, 2012: 261). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang membuat siswa untuk berfikir tingkat tinggi menuntut penggunaan strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa aktif, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan. Pendekatan semacam ini sangat sesuai dengan harapan. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Brookhart(2010, hal. 3-8) memaparkan jenis HOTS didasarkan pada tujuan pembelajaran di kelas, yaitu terdiri dari tiga kategori: HOTS sebagai transfer, HOTS sebagai critical thinking, dan HOTS sebagai problem solving. HOTS sebagai transfer didefinisikan sebagai keterampilan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dikembangkan dalam pembelajaran pada konteks yang baru. Baru di sini diartikan sebagai sesuatu yang belum diajarkan sebelumnya. HOTS sebagai transfer mencakup analysing, evaluating, dan creating (Brookhart, 2010, hal. 62).</span><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;="" mso-ansi-language:in"=""><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">HOTS sebagai critical thinking didefinisikan sebagai keterampilan memberikan keputusan (judgment) menggunakan alasan yang logis dan ilmiah. Ini mencakup berpikir kritis dan metakognitif. HOTS sebagai problem solving didefinisikan sebagai keterampilan mengidentifikasi masalah dan menyelesaikan masalah yang bersifat illstructured. Ini mencakup problem solving itu sendiri (Brookhart, 2010, hal. 5-7). </span><span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;mso-ansi-language:in"=""><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Berdasarkan hasil TIMSS <i>(Trends in International Mathematics and Science Study)</i> 2011 dan PISA <i>(Program for International Student Assessment)</i> 2009 memperlihatkan bahwa Indonesia berada pada peringkat bawah dari 65 negara, dengan kelemahan ada pada memahami informasi yang komplek, teori, analisis dan pemecahan masalah, pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah dan melakukan investigasi (Winataputra, 2013, hal. 6). Ini menunjukkan bahwa HOTS siswa secara umum masih berada dalam taraf yang rendah. Dari hasil tersebut menunjukkan pentingnya peran guru dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan berpikir tingkat tinggi</span><span style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;mso-ansi-language:in"=""><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Soal-soal HOTS bukan soal berarti soal yang&nbsp; sulit, soal yang panjang dan berbelit belit sehingga banyak membuang waktu saat membacanya dan sekaligus memusingkan siswa, tetapi soal tersebut disusun secara jelas dan rapi untuk mengatur Indikator Ketercapain Kompetensi (IKK) secara efektif sehingga siswa pun tidak hanya menjawab<a name="_GoBack"></a> secara asal-asalan.</span><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;="" mso-ansi-language:in"=""><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Perubahan sistem pendidikan&nbsp; menggunakan HOTS&nbsp; menjadi lebih baik memang perlu adanya. Keluhan kesulitan yang dialami oleh siswa dapat terselesaikan dengan cara pembisaan penerapan HOTS sejak dini, terlebih lagi penerapan di lingkungan keluarga.&nbsp; Membangun komunikasi yang baik dengan mengadakan musyawarah dalam keluarga akan terasa lebih efisien dalam memecahkan suatu masalah. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt;line-height: 150%"><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif"="">Kedua adanya sosialisasi secara merata terhadap guru-guru mulai tingkat </span><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%; font-family:" times="" new="" roman",serif;mso-ansi-language:in"="">sd</span><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"=""> – Perguruan tinggi sehingga permeratan satu visi dapat tercapai.&nbsp; Karena pada fakta dari 70 Juta guru yang mampu menerapkan sistem Hots di sekolah hanya 50% </span><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;="" mso-ansi-language:in"="">. </span><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt; line-height:150%;font-family:" times="" new="" roman",serif"="">Tampak ketidak seimbangan antara guru yang mampu menerapkan sistem HOTS dengan jumlah siswa yang harus di didik.(</span><span style="font-family: " times="" new="" roman",="" serif;="" font-size:="" 12pt;="" text-align:="" left;"="">Meylani)</span><span style="font-family: " times="" new="" roman",="" serif;="" font-size:="" 12pt;="" text-indent:="" 36pt;"="">&nbsp;</span></p>

Selengkapnya
REORIENTASI KURIKULUM MENYAMBUT ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

REORIENTASI KURIKULUM MENYAMBUT ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

52

<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:36.0pt;line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height: 150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;="" mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:="" in"="">Kurikulum 2013 adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi &nbsp;yang sudah diadakan sejak tahun 2013. Kurikulum ini ternyata masih membuat pro dan kontra. Kurikulum 2013 memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani murid. Banyak anggapan yang berbeda tentang kurikulum 2013, ada yang beranggapan bahwa kurikulum 2013 kurang efektif.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; text-indent:36.0pt;line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height: 150%;font-family:" times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;="" mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:="" in"="">Penerapan kurikulum 2013 diikuti dengan adanya penambahan jam pelajaran, hal tersebut sebagai akibat dari perubahan proses pembelajaran yang awalnya dari murid yang diberi tahu menjadi murid yang mencari tahu. Selain itu akan merubah pula proses penilaian yang semula berbasis output menjadi berbasis proses dan output. Kurikulum ini bersifat &nbsp;menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke murid.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kurikulum 2013 dinilai mulai diragukan efektifitasnya. Ada beberapa hal penting yang patut diperhatikan salah satunya adalah pergantian rezim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berbagai masalah muncul ketika banyak sekolah mengeluh karena belum tersedianya buku paket untuk murid maupun pegangan guru. Masalah lainnya adalah minimnya persiapan guru dalam menerapkan kurikulum ini karena banyak guru yang belum dapat pelatihan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah yang menuju pemberdayaan semua potensi siswa agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan. Selanjutnya, cara pembelajaran yang digunakan oleh seorang guru di dalam kelasnya seharusnya ditujukan agar dapat memfalisitasi tercapainya kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum sehingga pada gilirannya setiap siswa mampu menjadi pembelajar mandiri.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendapat semua orang tentang kurikulum 2013 tentunya berbeda-beda salah satu pendapatnya yaitu “kurikulum 2013 itu sangat sulit, waktu belajar yang sebelumnya hanya 2 jam sekarang bisa mencapai 3-4 jam”. Di kurikulum ini murid diwajibkan aktif didalam kelas, murid juga diharuskan mencari materi sendiri. Pada kurikulum sekarang guru semacam menjadi berperan pasif. Memberi materi baru tanpa menjelaskannya.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena, disini kita sebagai murid&nbsp; juga dituntut untuk belajar lebih keras lagi. Banyak anak yang se-angkatan &nbsp;dengan kita pun masih belum mengerti tentang kurikulum 2013. Sedangkan murid bersekolah mempelajari 8 pelajaran bahkan lebih, padahal hanya diujikan untuk Ujian Kelulusan (UN). Kurikulum ini juga membuat murid lelah karena kita harus mengejar guru untuk mengetahui pelajaran tersebut kalau tidak akibatnya kita akan ketinggalan pelajaran. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang cerdas dalam menghadapi masa depan. Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa,mampu lebih baik dalam melakukan &nbsp;bertanya&nbsp; dan mengkomunikasikan. Perubahan kurikulum dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar peserta didik mampu bersaing di masa depan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk tingkat SD terjadi perubahan yang cukup besar. Di SD yang dulunya ada 10 mata pelajaran dikurangi menjadi 6 mata pelajaran. Berkurangnya mata pelajaran dalam kurikulum baru ini justru membuat lama belajar peserta didik di sekolah bertambah. &nbsp;&nbsp;Kemendikbud akan menambah jam belajar di sekolah untuk menangkal efek negatif dunia luar sekolah. waktu luang yang lebih banyak diluar sekolah dianggap memicu peserta didik melakukan dengan tindakan negatif.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut&nbsp; pemerintah kurikulum 2013 adalah jawaban untuk meningkatkan sumber daya manusia. Implementasi kurikulum ini tentu juga menyangkut berbagai faktor, baik orang-orang yang terlibat dalam pendidikan maupun faktor-faktor penunjang dalam pelaksanaan pendidikan. Sebagai konsekuensi dari perubahan kurikulum juga akan mengakibatkan perubahan dalam operasionalisasi kurikulum tersebut, baik personel yang terlibat&nbsp; pendidikan maupun faktor penunjang dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sempat dikabarkan juga bahwa penghentian kurikulum 2013 didasarkan pada ketidaksiapan penyelenggaraan dan ketergesa-gesaan penerapannya. Selain juga dari informasi itu bahwa kurikulum 2013 saat ini tidak terdokumentasi dengan baik.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut saya kurikulum 2013 ini memberatkan siswa karena dengan tidak adanya penjelasan guru, siswa tidak mengerti dan akan menyebabkan ketinggalan pelajaran. Banyaknya guru senior yang tidak mampu menggunakan komputer tingkat dasar untuk menyiapkan perangkat pembelajaran. Dan juga belum tersebar secara merata pembagian buku kurikulum 2013. Kepala sekolah pun belum berjalan secara maksimal. &nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perubahan kurikulum 2013 yang pada saat ini melewati masa uji public terkesan reaktif dan terburu. Reaktif karena perubahan ini dianggap sebagai jawaban atas terjadinya tindakan kriminal di sekolah. Terburu-buru karena proses penyiapan kurikulum sampai dengan implementasinya memakan waktu lebih kurang hanya 9 bulan.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kurikulum 2013 terkesan pemaksaan, karena harus dilaksanakan tahun 2013 ini tanpa kajian yang mendalam. Kurikulum ini juga kurang relevan dalam perbaikan pendidikan dan kurang relevan kepada guru sebagai tenaga professional. Nampak jelas bahwa partispasi guru dalam pengembangan kebijakan tidak diikutsertakan sehingga informasi yang didapatkan tidak akurat.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Proses pembelajaran di sekolah&nbsp; yang berdasarkan kurikulum 2013 dapat berjalan dengan baik jika sekolah dapat memahami konsep pelaksanaannya dengan baik. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pendampingan tentang kurikulum ini dari pemerintah atupun pihak sekolah. Proses&nbsp; penilaian di sekolah yang berdasarkan kurikulum ini dapat dikatakan sudah berjalan dengan cukup baik. Hal ini hendaknya menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agar tujuan pendidikan dapat tercapai.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-justify:inter-ideograph; line-height:150%"><span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family: " times="" new="" roman",serif;mso-ascii-theme-font:major-bidi;mso-hansi-theme-font:="" major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi;mso-ansi-language:in"="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Peran guru dalam memilih media, metode, strategi dan model pembelajaran yang bervariasi sangat diharapkan untuk membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Buku pelajaran&nbsp; merupakan faktor pendukung dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pelaporan penilaian diperlukan penguasaan IT yang baik oleh guru untuk melaksanakan pelatihan oleh guru. Untuk itu diperlukan semangat dari guru untuk melaksanakan pelatihan IT untuk menunjang pelaksanaan Kurikulum 2013 dengan baik.Untuk peneliti bisa mengadakan penelitian lebih lanjut apakah kurikulum 2013 yang sekarang diterapkan berjalan dengan baik, atau apakah kurikulum ini di masa mendatang masih diterapkan sebagai kurikulum yang mampu meningkatkan pendidikan.&nbsp; (<o:p></o:p></span><span style="font-family: " times="" new="" roman",="" serif;="" font-size:="" 12pt;="" text-align:="" left;"="">Faiza Maulida)</span></p>

Selengkapnya

Sambutan Kepala Sekolah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.            Puji syukur terhatur ke hadirat Alloh swt. yang hanya atas ridhoNYA akhirnya terbitlah website Spenpatru yang sudah lama kita nantikan. Menjawab tantangan era digital, Spenpatru berusaha menerbitkan website sebagai wahana publikasi berita dan karya civitas akademika Spenpatru sehingga bisa diakses secara online oleh publik.         Hal ini sangat positif bagi upaya memajukan Spenpatru untuk bukan hanya dikenal oleh masyarakat sekitar Waru, tetapi juga oleh masyarakat luas yg bisa mengakses website ini. Dengan demikian peluang untuk "memasarkan" Spenpatru ke level lebih luas baik regional, nasional maupun internasional, terbuka lebar.       Sehubungan dengan itu, saya mengajak semua fihak, utamanya keluarga besar civitas akademika Spenpatru untuk memanfaatkan website ini dengan maksimal caranya dengan memaksimalkan Kegiatan kurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler kemudian mempublikasikannya melalui website ini. Semakin sering, semakin intens akan semakin baik, sehingga pada gilirannya nanti kegiatan pemanfaatan website menjadi kebiasaan yang bernilai positif bagi Spenpatru.                 Harus disadari bahwa sebagai"pendatang baru" keberadaan website Spenpatru tentu masih jauh dari sempurna, maka masukkan dari semua fihak sangat kita tunggu demi kesempurnaan website kita.     Mari maju bersama website Spenpatru.     Wassalamalaikum warohmahmatullohi wabarakatuh.